IMAM ABU MANSUR 14M Your SEO optimized title

Pages

 

16/04/12

Pin It

Tata Cara Hubungan Suami Istri di Malam Pertama Menurut Agama Islam

0 komentar

Tata Cara Hubungan Suami Istri di Malam Pertama Menurut Agama Islam



Sebagian dari para pasangan yang baru menikah tidak mengetahui bagaimana memaksimalkan malam pertama mereka. Asal main terjang dan terobos adalah aktivitas utama. Al hasil banyak loyonya ketimbang puasnya. Malam pertama bukan melulu berhubungan badan. Lebih jauh lagi menyatukan emosi dan perasaan antara dua insan. Oleh karena itu hendaknya dilakukan dengan benar. Lantas Bagaimana menggauli istri yang benar? Adab dan tata cara menggauli istri yang benar adalah seperti yang di contohkan oleh Rasulullah SAW.

Islam adalah agama yang lengkap yang mana ajrannya meliputi semua aspek kehidupan tak terkecuali pernikahan. Berbicara pernikahan tak akan lepas dari malam pertama. Malam pengantin bagi pasangan suami istri hendaklah penuh dengan suasana kelembutan, kasih sayang dan kesenangan. Malam yang menghubungkan suami dengan istrinya dengan tali kasih sayang dan cinta dan dapat menghilangkan kecemasan dan ketakutan serta menjadikan istrinya merasa tenang dengannya.

Berikut beberapa adab yang disebutkan didalam warisan kita untuk membentuk kehidupan baru, semoga bermanfaat :

1.Kebenaran niat

Hendaklah niat suami istri untuk menikah adalah untuk menjaga kehormatannya, berdasarkan sabda Rasulullah saw,”Tiga orang yang memiliki hak atas Allah menolong mereka : seorang yang berjihad di jalan Allah, seorang budak (berada didalam perjanjian antara dirinya dengan tuannya) yang menginginkan penunaian dan seorang menikah yang ingin menjaga kehormatannya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim dari hadits Abu Hurairoh)

2. Berhias dan mempercantik diri.

Hendaknya seorang istri mempercantik dirinya dengan apa-apa yang dibolehkan Allah swt. Pada dasarnya hal ini dibolehkan kecuali terhadap apa-apa yang diharamkan oleh dalil seperti mencabuti alis dan bulu diantara keduanya atau mengeroknya, menyambung rambut dengan rambut lain, mentato, mengikir gigi agar lebih cantik. Diharamkan baginya juga mengenakan pakaian yang diharamkan baik pada malam pengantin maupun di luar malam itu. Diperbolehkan baginya menghiasi dirinya dengan emas dan perak sebagaimana biasa dikenakan kaum wanita.

Begitu juga dengan si suami hendaknya memperhias dirinya untuk istrinya karena hal ini merupakan bagian dari menggaulinya dengan cara yang baik. Firman Allah swt :

yang artinya : “Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.” (QS. Al Baqoroh : 228)

Namun demikian hendaknya upaya menghias diri ini tetap didalam batasan-batasan yang dibenarkan. Tidak dibolehkan baginya mengenakan cincin emas kecuali perak. Tidak dibolehkan baginya mencukur jenggot, memanjangkan pakaiannya hingga ke tanah, mengenakan sutera kecuali tehadap apa-apa yang dikecualikan syariat.

3. Lemah lembut terhadap istrinya saat menggaulinya

Diriwayatkan oleh Ahmad didalam al Musnad dari Asma binti Yazid bin as Sakan berkata,”Aku pernah merias Aisyah untuk Rasulullah saw lalu aku mendatangi beliau saw dan mengajaknya untuk melihat kecantikan Aisyah. Beliau saw pun mendatanginya dengan membawa segelas susu lalu beliau meminumnya dan memberikannya kepada Aisyah maka Aisyah pun menundukkan kepalanya karena malu. Asma berkata,”Maka aku menegurnya.” Dan aku katakan kepadanya,”Ambillah (minuman itu) dari tangan Nabi saw.” Asma berkata,”Maka Aisyah pun mengambilnya lalu meminumnya sedikit.”

4. Mendoakan istrinya.

Hendaklah suami meletakkan tangannya di kening istrinya dan mengatakan seperti yang disabdakan Rasulullah saw,”Apabila seorang dari kalian menikah dengan seorang wanita atau membeli seorang pembantu maka hendaklah memegang keningnya lalu menyebut nama Allah azza wa jalla dan berdoa memohon keberkahan dengan mengatakan : Allahumma Innii Asaluka Min Khoiriha wa Khoiri Ma Jabaltaha Alaihi. Wa Audzu bika Min Syarri wa Syarri Ma Jabaltaha Alaih—Wahai Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan dari apa yang Engkau berikan kepadanya serta Aku berlindung kepada-Mu daripada keburukannya dan keburukan yang Engkau berikan kepadanya..”

5. Melaksanakan shalat dua rakaat

Diriwayatkan Ibnu Syaibah dari Ibnu Masud, dia mengatakan kepada Abi Huraiz,”Perintahkan dia untuk shalat dua rakaat dibelakang (suaminya) dan berdoa,”Allahumma Barik Lii fii Ahlii dan Barik Lahum fii. Allahummajma’ Bainanaa Ma Jama’ta bi Khoirin wa Farriq Bainana idza Farroqta bi Khoirin—Wahai Allah berkahilah aku didalam keluargaku dan berkahilah mereka didalam diriku. Wahai Allah satukanlah kami dengan kebaikan dan pisahkanlah kami jika Engkau menghendaki (kami) berpisah dengan kebaikan pula.”

6. Apa yang dikatakan ketika melakukan jima’ atau saat menggauli istrinya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw bersabda,”Apabila seorang dari kalian mendatangi istrinya maka hendaklah dia berdoa,”Allahumma Jannibna asy Syaithon wa Jannib asy Syaithon Ma Rozaqtana—Wahai Allah jauhilah kami dari setan dan jauhilah setan dari apa-apa yang Engkau rezekikan kepada kami—sesungguhnya Allah Maha Mampu memberikan buat mereka berdua seorang anak yang tidak bisa dicelakai setan selamanya.”

7. Diharamkan baginya menyiarkan hal-hal yang rahasia diantara suami istri

Diriwayatkan oleh Ahmad dari Asma binti Yazid yang saat itu duduk dekat Rasulullah saw bersama dengan kaum laki-laki dan wanita lalu beliau saw bersabda,”Bisa jadi seorang laki-laki menceritakan apa yang dilakukannya dengan istrinya dan bisa jadi seorang istri menceritakan apa yang dilakukannya dengan suaminya.” Maka mereka pun terdiam. Lalu aku bertanya,”Demi Allah wahai Rasulullah sesungguhnya kaum wanita melakukan hal itu begitu juga dengan kaum laki-laki mereka pun melakukannya.” Beliau saw bersabda,”Janganlah kalian melakukannya. Sesungguhnya hal itu bagaikan setan laki-laki berhubungan dengan setan perempuan di jalan lalu (setan laki-laki) menutupi (setan perempuan) sementara orang-orang menyaksikannya.”

8. Berwudhu diantara dua jima’ meskipun mandi adalah lebih utama

Apabila seorang laki-laki menggauli istrinya lalu dia ingin kembali mengulanginya maka yang paling utama baginya adalah berwudhu sehingga dapat mengembalikan tenaganya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abi Said al Khudriy berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Apabila seorang dari kalian menggauli istrinya kemudia dia ingin mengulanginya lagi maka berwudhulah diantara kedua (jima) itu.”

Didalam sebuah riwayat,”Seperti wudhu hendak shalat.” (HR. Muslim) Abu Naim menambahkan,”Sesungguhnya hal itu akan mengembalikan tenagannya.”

Mandi lebih utama, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud dari Rafi’ bahwa Nabi saw mengelilingi para istrinya dan mandi ketika (hendak menggauli) istri yang ini dan juga dengan yang istri ini. dia berkata,”Aku bertanya kepadanya,’Wahai Rasulullah apakah tidak cukup hanya dengan sekali mandi?’ beliau saw menjawab,”Ini lebih suci. Lebih wangi dan lebih bersih.”

9. Mandi berduaan

Dibolehkan bagi suami istri untuk mandi secara bersama-sama dalam satu wadah, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Aisyah berkata,”Aku mandi bersama Rasulullah saw dari satu wadah antara diriku dengan dirinya. Tangan kami saling bergantian berebutan sehingga aku mengatakan,”tinggalkan (sedikit air) buatku, tinggalkan buatku.” Dia berkata,”Mereka berdua dalam keadaan junub.”

Dari hadits diatas maka diperbolehkan keduanya telanjang dan saling melihat aurat satu dengan yang lainnya.

Didalam hdits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah dari Muawiyah bin Haidah berkata,”Aku berkata,’Wahai Rasulullah. Apa yang dibolehkan dan dilarang dari aurat kami?’ beliau menjawab,”Jagalah auratmu kecuali terhadap istri atau budakmu.” Maka dibolehkan bagi salah seorang dari pasangan suami istri untuk melihat seluruh badan pasangannya dan menyentuhnya hingga kemaluannya berdasarkan hadits ini, karena kemaluan adalah tempat kenikmatan maka dibolehkan melihat dan menyentuhnya seperti bagian tubuh lainnya.

10. Bersenda gurau dengan istri

Dibolehkan bersenda gurau dan bermain-main dengan istrinya di tempat tidur, sebagaimana sabdanya saw,”… Mengapa bukan dengan gadis maka engkau bisa bermain-main dengannya dan dia bisa bermain-main denganmu.” (HR. Bukhori dan Muslim) dan didalam riwayat Muslim,”Engkau bisa bahagia dengannya dan dia bisa bahagia denganmu.”

Diantara senda gurau dan mempergaulinya dengan baik adalah ciuman suami walaupun bukan untuk jima’. Rasulullah saw mencium dan menyentuh istri-istrinya meskipun mereka dalam keadaan haidh atau beliau mencium dan menyentuhnya meski beliau sedang dalam keadaan puasa.

Sebagaimana terdapat didalam ash Shahihain dan lainnya dari Aisyah dan Maimunah bahkan juga diriwyatkan oleh Ahmad dan Abu Daud dari Aisyah berkata,”Nabi saw mencium sebagian istri-istrinya kemudian beliau keluar menuju shalat dan tidak berwudhu lagi.” Ini sebagai dalil bahwa mencium istri tidaklah membatalkan wudhu.

11. Dibolehkan ‘Azl

Dibolehkan bagi seorang suami untuk melakukan ‘azl yaitu mengeluarkan air maninya di luar kemaluan istrinya, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Jabir bin Abdullah berkata,”Kami melakukan ‘azl sementara al Qur’an masih turun.” Didalam sebuah riwayat,”Kami melakukan ‘azl pada masa Rasulullah saw dan hal ini sampai kepada Nabi saw dan beliau saw tidaklah melarangnya.”

Meskipun demikian yang paling utama adalah meninggalkan ‘azl karena hal itu dapat mengurangi kenikmatan baginya dan bagi istrinya dan karena hal itu juga dapat menghilangkan tujuan dari pernikahan yaitu memperbanyak keturunan umat ini, berdasarkan sabda Rasulullah saw,”Nikahilah oleh kalian (wanita-wanita) yang dapat mendatangkan anak lagi mendatangkan kasih sayang. Sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya (jumlah) kalian dihadapan semua umat pada hari kiamat.”

Akan tetapi tidak diperbolehkan bagi seorang muslim melakukan ‘azl selamanya karena dapat membatasi dan mencegah keturunan…..

12. Mengunjungi kerabat pada pagi harinya

Dianjurkan baginya pada pagi harinya untuk mengunjungi kaum kerabatnya yang telah memenuhi undangannya.. berdasarkan hadits Anas berkata,”Rasulullah saw mengadakan pesta saat menikah dengan Zainab. Kaum muslimin dikenyangkan dengan roti dan daging. Kemudian beliau saw keluar menemui ibu-ibu kaum mukminin (istri-istrinya saw) dan mengucapkan salam kepada mereka, mendoakan mereka dan mereka pun menyambut salamnya dan mendoakannya, beliau lakukan itu pada pagi hari setelah malam pengantinnya.

Sumber : http://nalayeghie.wordpress.com/2010/05/29/tata-cara-hubungan-suami-istri-di-malam-pertama-menurut-agama-islam/
Read more...

13/04/12

Pin It

IKHTISAR

0 komentar
IKHTISAR
IMAM ABU MANSUR NIM : 07.01.0087
Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Pembelajaran dan Hubungannya dengan Motivasi Belajar siswa pada  Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di Smk Pui Jatibarang Kabupaten Indramayu.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan di SMK PUI Jatibarang Kecamatan Jatibarang Kabupaten Indramayu, menunjukan bahwa siswa sangat memperhatikan terhadap tingkah laku guru terutama dalam menilai suatu materi pelajaran. Misalnya dalam hal bentuk tes tata cara pelaksanaan tes, cara penilaian sampai dengan nilai akhir yang telah dinyatakan dalam bentuk bilangan. Tingkah laku guru khususnya pada mata pelajaran PAI kadang-kadang kurang melaksanakan aturan penilaian. Misalnya guru hanya mengumumkan nilai tanpa disertai lembar jawaban siswa, pengawasan kurang tepat. Hal itu menimbulkan prasangka siswa bahwa guru pilih kasih. Oleh karena itu siswa malas belajar mungkin hal itu merupakan penyebab hasil belajar PAI rendah.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peranan guru PAI dalam memotivasi belajar siswa, dan hubungan antara peranan guru PAI dengan motivasi belajar siswa di SMK PUI Jatibarang Kecamatan Jatibarang Kabupaten Indramayu.
Penilaian ini bertolak dari guru yang bertindak sebagai guru PAI merupakan fasilitator dalam prose belajar di sekolah dan berperan sebagai motivator siswa dalam belajar agar tercapai tujuan. Oleh karena itu peran gur PAI  dalam memotivasi belajar sangat penting pada proses belajar-mengajar di sekolah. Dan tentunya guru PAI di harapkan memilikki kesadaran dalam mengembangkan potensi individu siswa.
Langkah-langkah penelitian yang dilakukan adalah : penentuan populasi dan sampel, sumber data, pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumentasi), kemudian data yang terkumpul dianalisia.
Kesimpulan penelitian ini adalah peranan guru Pendidikan Agama Islam di SMK PUI Jatibarang Kecamatan Jatibarang Kabupaten Indramayu, dalam proses belajar-mengajar adalah :1) Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Pembelajaran  di SMK PUI Jatibarang Kecamatan Jatibarang Kabupaten Indramayu adalah sebesar 60,07%. Angka ini berada diantara 60%-70% yang berkatagorikan cukup. 2)motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Pembelajaran  di SMK PUI Jatibarang Kecamatan Jatibarang Kabupaten Indramayu adalah sebesar 52,91%. Angka ini berada diantara 50%-60% yang berkatagorikan cukup.
3)Hubungan antara peran guru terhadap motivasi belajar siswa di SMK PUI Jatibarang Kecamatan Jatibarang Kabupaten Indramayu, berada pada tingkat hubungan yang rendah, karena angka indeks korelasi product moment r_xy =  0,46 terletak pada rentang 0,400 -0,600 dengan nilai agak rendah.
Read more...
Pin It

KATA PENGANTAR

0 komentar
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke Hadirat Allah SWT. shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW. Kepada keluarganya dan para sahabatnya serta semua pengikutnya sampai akhir zaman.
Hanya dengan limpahan rahmat dan pertolongan-Nya penulis dapat menyelesaikan proposalskripsi dengan judul: “Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Pembelajaran Dan Hubungannya Dengan Motivasi Belajar Siswa Pada  Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Di Smk Pui Jatibarang Kabupaten Indramayu”..Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam rangka memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam Program Studi Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Cirebon. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan bimbingan, fasilitas dan kesempatan yang didapat selama ini. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :
1.    Bapak Dr. H. Mukhlisin Muzarie, M.Ag,  Ketua STAI Cirebon.
2.    Ibu Dra.Hj. Popon Kuraesin, MA,  Ketua Jurusan Tarbiyah STAI Cirebon.
3.    Bapak Prof. Dr. H. Jamali Sahrodji, MA,  pembimbing I Skripsi ini.
4.    Bapak Dr. Aan Jaelani, M.Ag,  Pembimbing II Skripsi ini.
5.    Bapak Drs. H. M. Rawi, M.Si, Kepala SMK PUI Jatibarang Kecamatan Jatibarang Kabupaten Indramayu.
6.    Semua pihak yang telah ikut membantu penulisan dalam melancarkan kegiatan penelitian ini.
Dalam penulisan skripsi ini penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak, baik berupa moril maupun materil. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang membantu dalam  penyelesaian penyusunan Skripsi ini.
Menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna dan banyak kekurangan, untuk itu dengan kerendahan hati mohon kritik dan saran yang membangun guna perbaikan dan kesempurnaan dimasa yang akan datang.
Akhir kata, penulis berharap mudah-mudahan skripsi ini bermanfaat khususnya bagi penulis umumnya bagi semua pembaca. Amiin.


Cirebon,     Januari 2012

     Penulis,
   


Read more...
Pin It

COVER SKRIPSI IMAM ABU MANSUR

0 komentar
PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PEMBELAJARAN 
DAN HUBUNGANNYA DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA
PADA  MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMK PUI JATIBARANG KABUPATEN INDRAMAYU


SKRIPSI
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)
pada Program Study pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah




Disusun oleh:
IMAM ABU MANSUR
NIM: 07.01.0087



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
CIREBON 
2011/2012
Read more...